Filosofi Pendidikan Reggio Emilia Anak
Filosofi Pendidikan Reggio Emilia Anak Dunia pendidikan anak usia dini mengenal sebuah metode revolusioner asal Italia yang bernama Reggio Emilia. Pendekatan ini lahir pasca Perang Dunia II berkat pemikiran Loris Malaguzzi dan para orang tua di sekitar wilayah Reggio Emilia. Mereka percaya bahwa karakter anak terbentuk pada tahun-tahun pertama kehidupan melalui eksplorasi lingkungan secara bebas namun terarah.
Konsep Anak Memiliki Seratus Bahasa
Salah satu pilar utama filosofi ini adalah keyakinan bahwa setiap anak memiliki “seratus bahasa”. Istilah ini merujuk pada berbagai cara anak mengekspresikan diri dan memahami dunia di sekitar mereka. Anak-anak menggunakan menggambar, memahat, menari, bermain peran, hingga menulis sebagai sarana berkomunikasi. Guru tidak membatasi anak pada satu metode belajar saja, melainkan mendukung semua saluran kreativitas tersebut agar potensi anak berkembang maksimal.
Peran Lingkungan Sebagai Guru Ketiga
Dalam Reggio Emilia, lingkungan fisik memegang peranan yang sangat krusial sehingga pendidik menyebutnya sebagai “guru ketiga”. Ruang kelas biasanya memiliki desain yang penuh cahaya alami, estetis, dan menggunakan bahan-bahan terbuka (loose parts). Penataan ruang yang apik mendorong anak untuk berinteraksi, melakukan investigasi, dan belajar secara mandiri. Lingkungan yang kaya akan stimulasi visual dan tekstur ini memicu rasa ingin tahu alami setiap anak setiap harinya.
Baca juga: dendrite-pskedfkub.online
Guru Sebagai Mitra dan Peneliti
Berbeda dengan sistem konvensional, guru dalam pendekatan ini bertindak sebagai fasilitator atau mitra belajar. Guru mengamati minat anak dengan saksama, kemudian menyediakan alat yang mendukung eksplorasi tersebut. Pendidik juga rajin melakukan dokumentasi berupa foto, video, atau catatan perkembangan untuk memahami proses berpikir anak. Dengan cara ini, kurikulum bersifat dinamis dan selalu mengikuti perkembangan rasa ingin tahu siswa di kelas.
Pentingnya Proyek dan Kolaborasi Sosial
Proyek dalam Reggio Emilia seringkali bersifat jangka panjang dan muncul dari pertanyaan spontan anak-anak. Misalnya, jika seorang anak bertanya tentang cara kerja pelangi, guru akan memfasilitasi proyek penelitian tentang cahaya dan warna. Proses ini mengutamakan kolaborasi antar anak, sehingga mereka belajar menghargai pendapat orang lain sejak dini. Melalui kerja sama ini, anak membangun keterampilan sosial yang kuat sekaligus mengasah kemampuan pemecahan masalah secara kolektif.